Feeds:
Pos
Komentar

Menyapih Ketergantungan

Puasa, secara bahasa berarti imsak (menahan, menghentikan, atau mengendalikan). Dalam dunia tasawuf, yang dimaksud puasa adalah menahan atau mengendalikan hawa nafsu, jika hawa nafsu tidak terkontrol akan menjadi sumber dan penyebab terjadinya berbagai dosa dan kejahatan, baik dosa lahir(melibatkan fisik atau badan) maupun dosa batin (hati dan pikiran) dapat mengotori dan merusak kesucian jiwa yang mengakibatkan pikiran-pikiran negatif sampai dengan perbuatan maksiat. Pengertian  hawa nafsu di sini bukan cuma mengekang nafsu makan dan nafsu seksual saja. Inti dari puasa itu pengontrolan fisik dan bhatin yang dengan sendirinya dapat menghindarkan manusia dari segala dosa.

Puasa Ramadhan salah satu rukun islam yang dilaksanakan satu tahun sekali, dan ALLOH sudah menjanjikan hari-hari ramadhan penuh dengan kemuliaan bagi orang2 yang pandai mengambil hikmah disetiap waktu yang berjalan. Dan saat inilah waktu yang tepat untuk mencoba menghentikan ketergantungan yang sia-sia.

Menghentikan ketergantunagn yang lebih banyak mudhorot bukanlah hal yang mudah, mungkin sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa dihentikan secara keseluruhan. Sesungguhnya Proses memberhentikan suatu kebiasaan buruk secara berangsur angsur atau sekaligus merupakan suatu upaya yang mendapatkan pahala berlipat ganda apabila dilakukan dengan ketulusan pada bulan suci ini.

Apa sich ketergantungan yang sia-sia ?? Intinya ketergantungan selain kepada ALLOH akan sesat dan rentan terhadap kerapuhan. Waspadalah tanpa disadari  ketergantuan selain kepada ALLOH menjadi sebuah kenikmatan dan kebiasaan mengakibatkan pikiran berhalusinasi yang membuat mandul fikiran dan jiwa yang suci. Dalam hadist banyak dijelaskan pada saat-saat bulan Ramadhan perbanyak melakukan amal kebaikan, tinggalkan hal-hal yang tidak membawa manfaat bagi keimanan.

Jika berpuasa tetapi masih juga melakukan berbagai dosa, baik dosa lahir maupun dosa batin, berarti dia tidak mampu mengendalikan nafsu, dan karena itu puasa yang dilakukannya mungkin tidak bernilai sama sekali. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, pada bulan Ramadhan ada seorang wanita mencaci maki pembantunya. Ketika Rasalullah mengetahui kejadian tersebut, beliau menyuruh seseorang untuk membawa makanan dan memanggil wanita itu, lalu Rasulullah bersabda, “makanlah makanan ini”. Wanita itu menjawab, “saya ini sedang berpuasa ya Rasulullah.” Rasululah bersabda lagi, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu. Sesunguhnya puasa adalah sebagai penjaga kamu untuk tidak melakukan perbuatan tercela.”

Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa orang  hanya menahan lapar dan dahaga saja, tetapi tidak sanggup mengendalikan ketergatungan emosinya sehingga amarah yang diperturutkannya, maka tanpa disadari melakukan  dosa lahir dan batin, maka puasanya itu tidak lebih dari sekedar orang-orang yang lapar saja. Hal ini sesuai juga dengan hadits Nabi yang lain, “Banyak sekali orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.”

Bulan Ramadhan saatnya waktu yang tepat untuk menyapih ketergantungan Nafsu yang hanya bisa dinikmati sesaat, ingatlah kita terus berkejaran dengan waktu yang datang  setahun sekali, dan belum tentu juga kita bertemu pada tahun berikutnya…

======================================================================

 Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala kepada ALLOH maka diampuni dosanya yang telah berlalu [HR Abu Hurairah ra]

-ilu-

Malam Pertama “MU”

Malam Pertama

Malam ini adalah malam pertama yang ditunggu seluruh umat manusia diseluruh penjuru dunia..

Malam yang romantis dan syahdu karena semua manusia berlomba-lomba bersaing untuk mendapatkan cintaMU,

Bolehkan mulai malam ini aku sedikit memaksaMU untuk mengabulkan keinginan dan harapan

Aku ingin menjadi mimpi indahMU

Aku ngin selalu menyentuhMU

Aku ingin selalu mendapat cinta MU

Aku ingin selalu dalam pelukanMU

Aku ingin selalu dijaga olehMU

Aku ingin tidak cemburu dengan perhatianMu kepada yang lain

Aku ingin tidak marah dengan takdirMU kepadaku

Ya ALLOH jadikan malam pertama ini dan malam-malam berikutnya menjadi malam yang aku dekat dengan Ayat-ayatMU, menjadikan aku selalu bertasbih mengingatMU

Ya ALLOH…. tuntunlah aku menjadi hamba-hamba pilihanMU hingga diujung waktu

Ya ALLOH…denganMU aku hidup dan mati, patrikanlah rasa pasrah dan berserah diri dalam menjalankan hidup ini

Ya ALLOH..jadikanlah ramadhan tahun ini menjadi bermakna dan makin aku tunduk padaMU

Hanya diri MU yang membuatku tenang dan tanpa diriMU menjadi kering kerontang

 

Cinta tanpa syarat…

Love uncondionally

 

Senja diujung jakarta…
Bersama sahabat-sahabat hati..
Sejak bada djuhur sampai jelang magrib tertawa bersama…
Tidak jelas apa yg ditertawakan…
Seakan tdk ingin berpisah…walau memang harus berpisah…
Ada suami dan anak-anak tercinta menunggu dirumah..
Mungkin ini yg namanya cinta kasih tanpa syarat…
Sejenak melupakan yang selalu menyita sebagian energi…
Semoga ALLOH senantiasa memberikan kebahagiaan di hati kita.
Maafkan bila ada salah dan pernah menyakiti dan meremehkan kalian
Semoga ALLOH mempertemukan kita kembali di surganya…
Jangan kuatir kita sudah membeli kapling disana
Yang kita bayar dengan cinta tanpa syarat…
Always smile apapun yg terjadi…
Terimakasih atas cerita sorenya…
Saya sayang kalian………
===========Short Message by BnS=========
 
Kata-kata “Cinta Kasih Tanpa Syarat” dalam tulisan diatas membuat ku terusik terutama dengan arti CINTA ?? Saya bukan ahli cinta dan pandai merangkai kata-kata tentang cinta, namun saya pernah merasakan jatuh dan putus cinta karena sebuah perasaan ingin memiliki. Saya juga banyak mendengar beragam hal tentang cinta, entah itu terangkai dalam sebuah cerita bahagia maupun kesedihan. Cinta adalah suatu proses rasa/emosi sunatullah yang ALLOH berikan kepada manusia. Tidak mengherankan karena cinta itu berhubungan dengan perasaan maka setiap individu mengartikan dan memaknai cinta berbeda-beda. Ada beberapa arti cinta yang saya dapatkan dari berbagai sumber.
 

Menurut Anak Perempuanku usia 16thn : “Cinta” adalah Kasih Sayang. Mengasihi, Menyayangi dan Menyukai”

Menurut Sahabat wanitaku yang sudah menikah : “Cinta” adalah rasa yang menumbuhkan energy”

Menurut Sahabat wanitaku yang belum menikah : “Cinta” adalah perasann yang complicated yang akan mempengaruhi kehidupan”

Menurut Suamiku : “Cinta” adalah pembuktian”

Teman laki-laki ku.: “Cinta” adalah suatu usaha aktif produktif yang melibatkan komitmen

Menurut Rabi’ah Al-‘Adawiyah:”Cinta” adalah ungkapan kerinduan dan gambaran perasaan yang terdalam. Siapa yang merasakannya, niscaya akan mengenalinya. Namun, siapa yang mencoba untuk menyifatinya, pasti akan gagal.

Menurut Ibnu ‘Abdush Shamad:”Cinta” adalah yang mendatangkan kebutaan dan ketulian, cinta membutakan segalanya kecuali terhadap yang dicintai sehingga orang itu tidak melihat apa pun.

Menurut Hamka:”Cinta” adalah perasaan yang mesti ada pada setiap manusia. Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih, dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, dan perkara tercela lainnya. Tetapi jika ia jatuh ke tanah yang subur, disana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi, dan lain-lain yang terpuji.

 Dari pendapat-pendapat diatas yang paling mendalam memaknai cinta adalah pendapat Hamka karena memiliki aura positif dengan nilai spiritual yang tinggi. Cinta diperumpamakan sebagai fenomena alam yang pemiliknya adalah ALLOH SWT.
 
Saya jadi mengambil kesimpulan bahwa intinya Cinta adalah suatu perasaan kasih sayang yang menghasilkan energy hingga mempengaruhi kehidupan dimana butuh pembuktian dan komitmen. Apakah dalam kehidupan yang nyata cinta itu semudah menuliskan definisinya. Ketika cinta butuh pembuktian seperti, istri selalu mengasihi suami yang banyak kekurangannya, atau seseorang terus menyayangi saudara atau sahabat yang menyebalkan. Dan apakah kita terus menyukai rutinitas sehari-hari.  Saya yakin dalam aktifitas sehari-hari, dan dalam menjalankan sebuah hubungan dengan seseorang,  kita akan tetap MENCINTAInya dengan berbagai syarat. 
Aku akan mengasihi suami jika dia menyayangi dan bertanggung jawab padaku…
Aku akan menyayangi saudara/sahabat jika dia baik padaku…
Aku akan menyukai seseorang jika dia tidak berseberangan denganku

Aku akan menyukai pekerjaanku jika pekerjaanku menyenangkanku

 
Jika melihat kalimat diatas, menyukai dan menyayangi  harus bersyarat dengan kata “jika”. Mungkin hanya orang-orang pilihan yang tanpa mengeluh mencintai. dan selalu konsisten menyayanginya dalam kondisi paling terburuk apapun. Apakah sanggup melakukannya…??
 
Sesugguhnya secara hakiki Cinta yang bisa kita lakukan tanpa syarat , pertama hanya hanya kepada ALLOH dan RasulNYA, berbicara tentang rasa suka, rasa tenang dan tenteram, rasa rindu dan pengharapan hanya ALLOH pemiliknya, Allah yang menciptakan rasa cinta dengan indah, Allah yang mengikat antara cinta yang satu dengan cinta yang lain, DIA pemilik hati manusia, sudah berjuta-juta tahun ALLOH telah menentukan yang terbaik kepada hambanya, kita tidak akan pernah tersakiti, kecewa dan salah bila mencintaiNYA.
 
 ALLOHpun mengatakannya di dalam AL-Quran :
 
Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.(At Taubah:24)
 
Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,(Al-Hujurat:7)
 
Lalu Cinta tanpa syarat yang kedua adalah cinta ibu kepada anak-anaknya, ibu tidak akan pernah menjerumuskan anaknya, dan cintanya tidak pernah habis karena waktu dan usia. Seorang ibu akan terus menyayangi anaknya walaupun anaknya telah tumbuh dewasa dan menua, tetapi seseorang anak yang sudah dewasa dan berkeluarga belum tentu sanggup merawat ibunya yang sudah tua dan tidak berdaya…..

Sanggupkah kita melakukan CInta Tanta Syarat selain kepada ALLOH dan Ibu terhadap anaknya ???

2.5 dasawarsa

Oasee yang tidak pernah terbayangkan….

Pernah kah terbayangkan oleh kita hal-hal yang diluar nalar terjadi, bahkan mungkin hal yang kita benci malah menjadi sebuah kenyataan.  Langit dan bumi begitu jauh jaraknya, siang malam bahkan tidak pernah menjadi satu, tetapi ketika ALLOH sudah berkehendak apapun bisa terjadi.  Dua setengah  dasa warsa bukanlah waktu yang pendek, banyak perubahan yang terjadi. Dari rambut yang sudah menjadi dua warna hingga matapun harus bertambah menjadi empat.  Masa-masa lalu pernah berbuat salah, pernah melakukan kemaksiatan, bahkan menyakiti hati orang kemudian dengan kebesaran ALLOH dalam waktu hitungan detik bisa tertutup dengan sebuah ‘ketakjubpan” kenapa hati ini bisa luluh dan mengakui semua kesalahan, mungkin saat itu belum mengerti bahwa segala tindak tanduk yang tanpa sengaja menjadi sebuah kesombong bagi orang lain, bahkan betapa tidak takutnya itu bisa menjadi sebuah dosa.

Jika jari-jari  ALLOH saatnya menyentuh hati, tidak hanya getaran yang dirasakan tetapi rasa ngilu hingga tulang sum sum, dan kemudian tersadar…Ya ALLOH rasa apa yang KAU berikan kepada ku hingga luluh lantah dengan semua yang pernah dilakukan tanpa berfikir dan takut kepadaMU. Kejadian yang tidak terduga membuat  tercengang, dan saat ini  menduga duga apakah ini sebuah kesabaran dari doa orang-orang tercinta hingga ALLOH memberikan kado dan hiburan yang tidak terhingga nilainya…..

Kembali tarik nafas lagi kok bisa yaaa…

Duluu betapa bencinya…

Duluu betapa kecillnya…

Duluu betapa sombongnya…

Sekarang ALLOH memutar balikkan hati….

Menjadi sesuatu yang sangat  bermakna …….

 

Apakah ini sebuah rezeki…

Setiap orang mempunyai cara pandang yang berbeda dalam menyikapi arti dan makna rezeki. Ada yang dengan diberikan kesehatan dan umur yang berkah itu merupakan bagian dari rezeki. Ada pula yang selalu mendapat kebaikan itu pun juga bagian dari rezeki. Bahkan perubahan hati menjadi baik itu juga sebuah rejeki walaupun harus dengan menunggu lama dua setengah dasa warsa….Dan aku makin yakin ini adalah sebuah rejeki yang tidak terduga”

Nasehat sahabatku :

  • Pernahkah tanpa sengaja kau memikirkan seseorang yang sudah lama tidak bertemu, tiba-tiba orang tersebut muncul, atau kau bertemu dengannya atau kau menerima telepon darinya? Itu adalah kuasa ALLOH yang sedang menghiburmu.“Tidak ada yag namanya kebetulan (QS 3:190-191)”
  • Pernahkah kau mendapatkan sesuatu yang tidak terduga, yang selama ini kau inginkan tapi rasanya sulit untuk didapatkan? Itu adalah ALLOH yang mengetahui dan mendengar suara batinmu serta hasil dari benih kebaikan yang kau taburkan sebelumnya . “Tidak ada yang tidak mungkin karenaNYA (QS 65:2-3)”

==================================================

Dec. 23’14
Pears

you are not “pearls” but i found the “life pearls”

because this moment

SC20140725-122745Beberapa WA dan BB datang ditengah malam, saat itu mata setengah terbuka membaca salah stunya “Indahnya Malam ini, setelah 53 tahun, 27 Ramadhan jatuh tepat malam ini. Potensi karunia Lailatul Qadr. Sambutlah dengan Ketaatan…” kubaca ulang lagi, sepertinya hatiku mengatakan ada sesuatu yang istimewa dalam WA ini. Aku baru tersadar bahwa sipengirim mengajak kebaikan yang ganjarannya 1000 bulan beribadah. Aku tidak pernah bertemu dengan teman satu ini, walau sudah berkomunikasi melalui WA-SMS-BB beberapa tahun yang lalu. Aku tidak tahu secara detail kepribadiannya, tetapi setiap tausiah dan ucapan menjadi sebuah motivasi dan Inpirasi bahwa untuk mengajak kebaikan tidak harus dengan fisik dan materi, dengan kata-kata sederhana pun dapat menggetarkan hati.

——————————————————————————————

Dalam agama dianjurkan kita berteman kepada siapapun, karena didalam diri manusia banyak hikmah kehidupan yang bisa diambil. Sementara untuk menjadi teman yang dapat dipercaya memang harus memilih dengan cermat. Berteman itu seperti menikah menyatukan hati, visi dan misi dimana dapat mempengaruhi cara berfikir untuk menjadi lebih baik. Karena setiap katanya adalah nasehat, diamnya adalah mengingatkan kepada Allah, dan perbuatanya membuat kita iri.

Dalam setiap diri teman ada yang baik dan buruk pribadinya, biasanya kita akan klik mengalir dengan berjalannya waktu bahwa teman itu bisa satu langkah atau berlawanan. Tentunya seseorang bisa berteman sangat lama karena menyukai dan mencintai hal yang sama. Dan masing-masing akan menjaga komunikasi agar dapat berdialog secara rutin. Tetapi ada beberapa yang dapat bertahan pertemanannya tanpa perlu bertemu secara fisik, mereka berkomunkasi dengan email, sms, atau fasilitas hightech lainnya.

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan pandai besi. Si penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan aroma harum semerbak darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari)

Tetapi hal yang lebih penting dan utama teman yang baik adalah teman yang dapat menjadi inspirasi iman lebih baik, dan termotivasi untuk meninggalkan hal-hal yang buruk. Menyemangati ketika kita terpuruk, menghapus kesedihan dan air mata, dan banyak sekali perkataan & Perbutannya yang membuat hati bergetar makin baik dari hari kehari. Tidak harus dengan tangannya dia membantu kita, tidak harus dengan perbuatnnya, atau hartanya memberikan bantuan, tetapi cukup dengan kata-kata yang bisa membangkitkan menjadi Cinta kepada Allah.

Beberapa pendapat alim ulama pun menjelaskan, jika ingin melihat kepribadian seseorang lihatlah siapa yang mejadi teman-teman disekitarnya. Dalam Hadist disebutkan bahwa “Seseorang tergantung agama teman akrabnya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian memerhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman akrab.” (HR. Abu Dawud)”.

Teman-teman yang menjadi inspirasi sudah mewarnai kehidupanku yang berwarna, pemilihan corak dan cara mewarnai kita memang berbeda, tetapi ada satu hal yang kudapatkan darimu bahwa aku makin tahu bagaimana mencintai ALLAH…..

Pesan Orang Bijak :
Kita tidak sempurna, makanya kita mencari sahabat untuk saling menyempurnakan. Tapi persahabatan ini juga belum sempurna, makanya kita menjalin hubungan baik dengan setiap manusia, agar hidup kita sempurna.

kEbAhAgiAN

SC20140723-122029Berjalannya waktu dengan tempaan kehidupan yang harus dilalui, mau tidak mau kesedihan dan kebahagian datang silih berganti. Sebenarnya ada tiga golongan tempaan kehidupan, sebagian mendapat kehidupan selalu baik & bahagia, sebagian lain harus menghadapi kesedihan dan kekecewaan, dan sisanya cobaan berganti antara sedih dan bahagia seperti roda berputar. Tentunya setiap orang ingin selalu mencapai kebahagian karena tercapainya keinginan dan kesuksesan.

Bahagia berhubungan dengan hati/emosi yang merasa senang, aman, nyaman, damai, tentram, dan masih ada beberapa kata sejenis dimana bersifat perasaan yang positif. Mudah sekali mengenali orang yang sedang bahagia, wajahnya terlihat sumringah dan ceria, dan menjadi lebih baik hati. Ada juga ekpresi kebahagian dengan menangis/menitikkan air mata karena terharu.

Setiap orang berbeda dalam kapasitasnya memaknai sebuah kebagian, ada yang berpendapat bahagia adalah “memiliki materi banyak”, “memiliki pasangan yang sempurna fisik dan hatinya”. Tetapi ada beberapa orang yang memaknai kebahagian itu sederhana misalnya “mereka yang kaya raya, berkuasa, menawan, dan populer, belum tentu lebih bahagia daripada yang miskin, lemah, jelek dan tidak ada yang mengenal”. Artinya dengan kondisi kekurangan mereka bisa bahagia. Tetapi Kebanyakan orang mengkaitkan kebahagian itu dengan pemenuhan materi. Jadi kebahagian itu bersifat subyektif dimana setiap kepribadian memaknai dalam merasakan hal-hal baik tentang dirinya sendiri dan lingkungan berbeda. Maka sederhanakanlah makna Bahagia agar kita mudah mencapainya dan tidak akan kecewa.

Dalam Islam kebahagian itu sesungguhnya adalah pencapain keimanan untuk selamat di dunia dan akherat. Sementara materi atau harta hanya sebuah sarana atau fasilitas bonus dari Allah, dan bukan menjadi syarat mutlak mencapai kebahagian. Allah memberikan cara untuk menjadi orang yang berbahagia dalam firman-Nya,

QS. Thoha: 123-124
“Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

QS. An-Nahl: 97
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Sementara lawan dari kata Bahagia adalah Celaka. Dan Alloh sudah memberikan gambaran tempat untuk orang-orang yang celaka dan bahagia.

QS Hud 106-108 :
“Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.”

Imam Ibnu Al Qoyyim mengatakan bahwa sesungguhnya ada 3 hal yang merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba dan tanda keberuntungannya di dunia dan di akhirat yaitu (i) adalah bersyukur ketika mendapatkan nikmat, (ii) bersabar ketika mendapatkan cobaan, (iii) dan bertaubat ketika melakukan kesalahan. Butuh perjuangan dan kerja keras iklas dalam mencapai 3 hal tersebut, tidak ada kata sulit untuk sebuah kebaikan, karena Allah sudah menjamin dimana ada kesulitan disitu ada kemudahan. Wallahu Alam….

Kata Bijak :
“The more we are grateful, the more happiness we get.”

“AIB”


Dari sudut pandang Bahasa, Kata “Aib” mengandung beberapa arti :Aib Image

  • Bahasa Indonesia : nama buruk, malu, cela kesalahan
  • Sosiologi :  malu, cela, noda, salah, keliru.
  • Bahasa Arab :  Cacat dan Kekurangan

Definisi  “Aib” adalah suatu peristiwa atau keadaan dimana seseorang dalam kondisi buruk/cela/keliru/salah baik dimata umum dan agama. Dan apabila aib tersebut diketahui oleh orang lain, maka akan membuat rasa tidak percaya diri, yang akhirnya  dapat berpengaruh negatif secara psikologis.

Terkadang dalam obrolan sehari-hari tanpa disengaja membicarakan/mendapatkan informasi keburukan seseorang, bahkan hal tersebut bisa menjadi menjadi topik pembahasan utama yang  mengasyikan, dalam pandangan Islam obrolan itu bukanlah perkara ringan. Coba bayangkan jika  kita dalam posisi  menjadi obyek obrolan orang-orang tentang kekurangan/cacat kita, pasti ada rasa malu, tidak percaya diri, mengindar dari masyarakat. Dalam Islam diajarkan bagaimana kita harus menutup aib diri sendiri maupun orang lain. Bahkan adab untuk menjaga rahasia seseorang diaturdalam Islam. Sebagai manusia yang ingin dianggap normal, tentunya tidak ingin kekurangan/keburukannya  diketahui oleh orang lain. Hanya ALLOH yang berhak mengetahui dan menilainya.

Setiap orang pasti memiliki kekurangan, cela dan dosa tertentu pada dirinya, oleh karena itu sebaiknya aib yang ada pada seseorang dapat dijadikan pelajaran, paling tidak untuk diri kita tidak melakukan hal serupa. Dan menjadi sebuah nasehat kepada orang lain tentang hakekat aib yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Karena setiap perbuatan sebiji zarah yang dilakukan di dunia harus bisa dipertanggungjawabkan di depan ALLOH.

Berdasarkan sifatnya,  Aib dibagi dalam kategori :

  1. Khalqiyah : aib yang sifatnya qodrati, dan bukan merupakan perbuatan maksiat

Seperti cacat/penyakit yang membuatnya malu jika diketahui oleh orang lain. Kekurangan ini sifatnya penciptaan Allah yang manusia tidak kuasa menolaknya. Apabila menyebarkan aib ini berarti menghina ciptaan Alloh.

  1. Perbuatan Maksiat yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan

Perbuatan maksiat yang merusak hubungan secara pribadi dengan Alloh, dan merugikan manusia. Misalnya : minum khamr, jinah, mencuri, korupsi, dll,

Agar kita selamat dunia dan akherat,  sangat dianjurkan menutup aib diri sendiri & orang lain, karena Alloh saja sebagai pencipta selalu  menjaga dan menutup aib manusia rapat-rapat, tetapi justru masyarakat sekarang banyak melakukan kemaksiatan secara terang-terangan, bahkan ada sebagian merasa bangga dengan kemaksiatannya itu.  Salah satu Firman Allah dalam Surat Hujarat ayat 12 mengandung 3 hal yang tidak boleh kita lakukan yaitu berprasangka buruk, mencari-cari keburukan orang lain, dan menggunjingkan satu sama lain. Ketiga hal tersebut apabila tidak dijaga, maka akan menyeret kita dalam perbuatan dosa.

Al-Hujarat-12
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), Karena sesungguhnya prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Dalam beberapa hadistpun disebutkan  kita wajib menjaga aib diri sendiri, dan Alloh maha pemaaf bagi orang-orang yang menjaga aibnya. Begitupun juga Alloh akan membalas orang-orang yang menutupi aib orang lain, dengan ganjaran aib orang tersebut terjaga di dunia dan akherat. Subhannalah betapa maha Penyayang dan Pemaaf Alloh dengan perkara Aib ini.

  • HR.Bukhari Muslim

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari , kemudian dipaginya ia berkata : wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu , padahal Allah telah menutupnya dan dipagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya” 

  • HR. Muslim

“Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.”

  • HR at-Tirmidzi

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Wahai orang yang beriman dengan lisannya, tetapi tidak beriman dengan hatinya. Janganlah kamu mengumpat kaum muslimin dan janganlah mengintip aib mereka, maka barang siapa yang mengintip aib saudaranya, niscaya Allah akan mengintip aibnya dan siapa yang diintip Allah akan aibnya, maka Allah akan membuka aibnya meskipun dirahasiakan di lubang kendaraannya.” 

Kata Bijak : “Apabila Anda menutup pintu terhadap segala kesalahan, maka Anda pun juga telah menutup pintu terhadap kebenaran.”
(R. Tagore)

 

 

 

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.